Latest Post

Tinjau IPA: Menteri PU Dody Hanggodo (dua dari kiri) dan Anggota DPR RI Andre Rosiade (kiri), Kepala BPBPK Sumbar, Maria Doeni Isa dan Wako Padang, Fadly Amran saat meninjau IPA Gunung Pangilun Perumda Air Minum Kota Padang, Jumat (30/1). 

 

Padang, Beritaone—Krisis air bersih pascabencana di Kota Padang harus disikapi dengan cepat dan bijak untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Baik melalui perbaikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang rusak dilanda banjir bandang maupun membangun SPAM baru untuk jangka panjang dan mitigasi bila terjadi lagi bencana di masa mendatang.

Pemko Padang terus berupaya bergerak cepat merespons krisis air bersih yang melanda daerah tersebut pascabencana dan musim kemarau. Salah satu upaya yang dilakukan untuk pemulihan distribusi air di Kota Padang adalah meminta pembangunan 200 sumur bor dan SPAM kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Hal itu disampaikan Wali Kota Padang, Fadly Amran ketika mendampingi Menteri PU Dody Hanggodo bersama Anggota DPR RI Andre Rosiade dan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah saat meninjau kondisi IPA Gunung Pangilun Perumda Air Minum Kota Padang, Jumat (30/1).

Dikatakan Fadly Amran, untuk mengurangi beban tekanan pada pipa PDAM yang saat ini masih bersifat sementara dia meminta pembangunan sumur bor komunal di ratusan titik.

“Kami meminta kepada Bapak Menteri untuk daerah-daerah kekeringan ini bisa dipasangkan sumur bor. Tujuannya agar tekanan air PDAM ke rumah tangga tidak terlalu terbebani karena harus membagi suplai ke wilayah non-pelanggan," ujar Fadly Amran.

Pemko Padang, kata dia, telah mengajukan sedikitnya 200 titik sumur bor. Karena aset Pemko Padang hanya mencakup 50 lokasi, pihaknya berinisiatif menempatkan sisa sumur bor tersebut di fasilitas publik.

“Sisanya kita arahkan ke masjid dan mushala agar masyarakat lebih mudah mengakses air bersih secara komunal,” tambahnya.

Fadly Amran juga mengatakan, pembangunan SPAM di Kota Padang sangat diperlukan untuk memitigasi jika terjadi bencana di masa mendatang. “Kita tahu Kota Padang rawan bencana sehingga perlu penambahan SPAM-SPAM baru. Seperti disampaikan pihak kementerian akan ditambah dua SPAM baru yakni berkapasitas 200 liter per detik dan 500 liter per detik,” ujarnya.

Wako mengatakan, pascabencana pengerjaan intake dan perpipaan Perumda Air Minum Kota Padang sudah 98 persen tuntas. Sedangkan dua persen lagi diharapkan awal Februari 2026 selesai. Namun dari 98 persen tersebut tidak semua debit airnya berkapasitas 100 persen atau seperti sebelum terjadi bencana. Karena pipanya sementara atau temporary. “Sehingga dengan bobot air PDAM hari ini ditambah PDAM juga membantu kekeringan di Kota Padang bagi nonpelanggan PDAM yang kemarin kita lihat bersama Bapak Menteri, tentu ini akan sangat-sangat mengurangi tekanan air kepada rumah-rumah tangga. Makanya kemarin kami meminta kepada Bapak Menteri, untuk daerah-daerah yang kekeringan bisa dipasang sumur bor,” ujarnya.

Fadly Amran juga mengatakan, Perumda Air Minum Kota Padang selain bisa memenuhi tuntutan pelanggan juga harus mensupport masyarakat yang dilanda kekeringan dengan bantuan air tangki.

“Kami berterimakasih kepada semua pihak, sebab bukan hanya mobil-mobil tangki PDM saja, tapi juga mobil tangki dari  BPBD kota, provinsi, pusat, balai, PMI dan organisasi lainnya. Ini sangat membantu distribusi air selama ini,” ujarnya.

Tapi kalau ini diteruskan, kata wako, tentu akan berdampak juga kepada pelanggan Perumda Air Minum Kota Padang. Tekanan air kepada pelanggan akan berkurang. Sehingga menurutnya pembangunan SPAM baru sangat diperlukan.

Wako menyebutkan, untuk pembangunan SPAM baru, Kota Padang mendapatkan bantuan dari Kementerian PU untuk pembangunan SPAM Palukahan kapasitas 200 liter per detik akan dimulai pembangunannya tahun ini. 

Selain SPAM Palukahan, juga akan dibangun SPAM Gunung Pangilun kapasitas 500 liter per detik dalam tahun 2026 ini.  “Ibu Kepala Balai menyampaikan bahwa SPAM Gunung Pangilun ini sudah tidak layak karena ada retakan. Sangat berisiko jika terjadi gempa lagi, makanya harus diganti dengan tambahan kapasitas 500 liter," jelasnya.

Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal mengatakan, IPA Gunung Pangilun yang rusak diguncang gempa 2009 lalu perlu dilakukan perbaikan untuk memasimalkan pelayanan kepada pelanggan. Khususnya pelanggan yang ada di pusat Kota Padang jumlahnya mencapai 40.730 pelanggan atau sekitar 133 jiwa.

“IPA Gunung Pangilun ini seperti diusulkan Balai segera kita ganti. Lokasinya dekat intake Kampung Koto. Kita sudah punya lahan dan akan memakai teknologi yang lebih canggih lagi. Karena IPA yang ada sekarang dibangun tahun 1957 oleh Perancis sudah tua dan tidak layak lagi dari hasil survei,” ujarnya.

 

Beri Insentif

Terkait pelanggan Perumda Air Minum Kota Padang yang belum teraliri air pascbencana Pemko Padang akan memberikan insentif berupa pembebasan pembayaran maupun retribusi sampah.

Wako menginstruksikan agar pelanggan diberikan insentif berupa keringanan pembiayaan.

Hendra Pebrizal juga mengatakan, Perumda akan memberikan insentif kepada 1.382 pelanggan yang belum teraliri air. Sampai sekarang pelayanan sudah pulih 98,9 persesn, hanya 1,1 persen tersisa. “Pelanggan yang benar-benar belum dapat air akan kita nolkan tagihannya termasuk retribusi sampah pada bulan Februari. Tapi pelayanan berupa air tangki tetap diberikan. Tedmond-tedmond yang sudah kita sediakan kita isi dua kali sehari,” ujarnya.  (yan)

 


 


 Perbaikan: Pekerja terus mengebut perbaikan intake Perumda Air Minum Kota Padang yang terdampak bencana akhir November 2025 lalu. 

 

Sawahan, Beritaone--Dua bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang, distribusi air bersih ke rumah-rumah pelanggan terus dikebut normalisasinya oleh Perumda Air Minum Kota Padang. Berbagai upaya dilakukan untuk percepatan menormalkan distribusi air agar sampai merata ke rumah pelanggan.

Direktur Utama Perumda Air Minun Kota Padang Hendra Pebrizal menyebutkan, saat ini distribusi air telah mencapai 98 persen lebih. Meski begitu Hendra Pebrizal mengakui, masih ada kawasan yang belum teraliri secara maksimal, yakni  kawasan Gaunung Nago di Kecamatan Pauh.  “Ini disebabkan pipa belum bisa dipasang di lokasi. Jarak  sungai yang sebelum banjir hanya 150 meter, namun pascabencana bentangan sungai telah mencapai 250 meter,” ujarnya, Kamis (29/1).

Namun Hendra memastikan terus memberikan suplai air bersih bagi pelanggan yang sampai saat ini belum mendapatkan distribusi air.

Untuk pelanggan dan nonpelanggan yang mengalami krisis air bersih, Perumda Air Minum Kota Padang mengerahkan mobil tangki.

“Untuk pelanggan yang belum hidup airnya dan nonpelanggan kami bantu dengan air tangki setiap harinya,” ujarnya.

Hendra Pebrizal juga mengatakan, salah satu intake yang terdampak banjir bandang adalah Intake Taban di kawasan Lubuk Minturun Kototangah. “Saat ini Perumda Air Minum Kota Padang tengah membangun kawat bronjong untuk mengamankan pompa sumber air kita,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, saat ini masih terdapat 5 intake yang masih dalam perbaikan, karena sebagian besar mengalami kerusakan berat. Meski demikian ia optimis layanan dan distribusi air bersih kepada pelanggan dan nonpelanggan dapat disalurkan kembali dalam waktu dekat. (rel)

 


 Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram.

 

Padang, Beritaone--Bank Indonesia Sumatera Barat menilai bencana demi  bencana yang melanda Sumbar  berdampak besar kepada melambat pertumbuhan ekonomi Sumbar.

 “Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat selalu berada di bawah nasional karena sektor-sektor utama terdampak bencana,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram, Rabu (28/1).

 

Menurut dia, sektor-sektor penopang utama seperti pertanian, industri, dan transportasi justru menjadi yang paling rentan ketika terjadi bencana alam. Akibatnya, setiap kali terjadi gangguan, pemulihan ekonomi berjalan lambat.

Majid menilai, ketergantungan besar terhadap pertanian membuat guncangan kecil sekalipun berdampak luas terhadap pendapatan masyarakat.

 

“Pertanian ini basis ekonomi masyarakat. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi kembali setara nasional, sektor utama ini harus segera kita benahi,” katanya.

 

Dia mencontohkan dampak bencana banjir bandang pada 2024 yang belum sepenuhnya diikuti percepatan perbaikan infrastruktur. Kondisi tersebut berimbas pada melambatnya kinerja pertanian, meski sebagian subsektor seperti perkebunan masih tertolong kenaikan harga komoditas.

 

Memasuki 2025, bencana kembali terjadi dan lagi-lagi memukul sektor yang sama. Keterlambatan perbaikan jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung dinilai berisiko menghambat musim tanam berikutnya.

 

“Kalau proses perbaikan terlambat, ini akan menjadi persoalan serius. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pertanian bisa pulih tepat waktu,” ujarnya.

 

Karena itu, Bank Indonesia mendorong pembenahan struktural yang lebih terukur, mulai dari penguatan infrastruktur pertanian hingga pengembangan sumber pertumbuhan baru seperti pariwisata yang dinilai lebih cepat bergerak.

 

Namun, dia mengingatkan agar dorongan optimisme tetap dibarengi perhitungan realistis.

 

“Kita optimis untuk mengejar pertumbuhan, tapi juga realistis melihat kapasitas. Kalau tidak hati-hati, kita bisa kembali tertinggal di bawah nasional,” katanya.

 

Dikatakan, bencana yang terjadi di Sumbar berdampak ke banyak sektor. Beranjak dari hal tersebut, diharapkan bisa direncanakan pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan inklusif, sehingga di kemudian hari Sumbar bisa menjadi lebih tangguh lagi. (*)

 


 Murah: Masyarakat antusias membeli beras murah yang digelar BI Sumbar dan Bulog di Pasar Raya Padang Selasa (20/1)


Padang, BeritaoneBank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumatera Barat menggelar kegiatan penukaran uang Rupiah yang dipadukan dengan program beras murah di Blok III Pasar Raya Padang, Selasa (20/1). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, hingga Rabu (21/1) dan disambut antusias oleh ratusan warga serta pedagang.

Program yang digelar pukul 09.00 hingga 12.00 tersebut bertujuan memberikan kemudahan akses uang layak edar sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau. Terutama pascabencana alam yang berdampak pada stabilitas harga di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

Deputi Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado mengatakan, masyarakat bebas menukarkan uang dalam nominal berapa pun. Layanan ini mencakup penukaran uang lusuh dengan uang baru, penukaran pecahan besar ke kecil, maupun sebaliknya.

“Ini merupakan kegiatan penukaran uang, baik uang yang lusuh atau dari nominal besar ke kecil, maupun sebaliknya. Setelah menukar uang, masyarakat akan mendapatkan voucer beras senilai Rp25 ribu,” ujar Andy, Selasa (20/1).

Voucer tersebut dapat langsung digunakan untuk membeli beras di stan Perum Bulog yang disediakan di lokasi kegiatan. BI Sumbar bekerja sama dengan Bulog menyediakan dua jenis beras, yakni beras Suntiang dan beras Setra Ramos pulen, masing-masing dalam kemasan 5 kilogram.

Harga normal beras tersebut sebesar Rp 77 ribu per karung. Dengan adanya voucer diskon dari BI, masyarakat cukup membayar Rp 52 ribu. Menurut Andy, skema ini dirancang untuk membantu menekan beban pengeluaran masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.

“Harga beras cenderung naik pascabencana alam di beberapa daerah. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan beras berkualitas dengan harga di bawah pasar,” jelasnya.

Untuk mendukung kelancaran transaksi, BI Sumbar menyiapkan uang tunai senilai total Rp 1,8 miliar selama dua hari pelaksanaan. Setiap harinya, disiapkan Rp 900 juta dengan pecahan mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000 guna memenuhi kebutuhan uang kecil para pedagang.

Selama dua hari kegiatan, tersedia total 500 karung beras ukuran 5 kilogram, terdiri dari 300 karung beras Suntiang dan 200 karung beras Setra Ramos pulen. Stok tersebut dibatasi setiap harinya agar distribusi melalui voucer dapat merata.

Antusiasme warga terlihat sejak pagi, dengan antrean yang mengular di area penukaran uang. Lokasi Pasar Raya dipilih karena merupakan pusat aktivitas ekonomi, khususnya bagi pedagang yang membutuhkan uang pecahan kecil untuk transaksi harian.

Salah seorang pedagang Pasar Raya Padang, Isaf, 52, mengaku sangat terbantu dengan program tersebut. “Saya sangat antusias. Bisa menukarkan uang besar jadi kecil, itu sangat membantu untuk uang kembalian pembeli,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi adanya voucer beras dan souvenir dari BI. “Selain urusan uang beres, saya juga bisa bawa pulang beras. Semoga kegiatan seperti ini sering dilakukan,” tambahnya.

(yan)

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
IKLAN